Sistem Peringatan Dini (Early Warning System)


1. Pengertian Sistem Peringatan Dini

Sistem Peringatan Dini (Early Warning System) merupakan serangkaian sistem untuk memberitahukan akan timbulnya kejadian alam, dapat berupa bencana maupun tanda-tanda alam lainnya. Peringatan dini pada masyarakat atas bencana merupakan tindakan memberikan informasi dengan bahasa yang mudah dicerna oleh masyarakat. Dalam keadaan kritis, secara umum peringatan dini yang merupakan penyampaian informasi tersebut diwujudkan dalam bentuk sirine, kentongan dan lain sebagainya. Namun demikian menyembunyikan sirine hanyalah bagian dari bentuk penyampaian informasi yang perlu dilakukan karena tidak ada cara lain yang lebih cepat untuk mengantarkan informasi ke masyarakat. Harapannya adalah agar masyarakat dapat merespon informasi tersebut dengan cepat dan tepat. Kesigapan dan kecepatan reaksi masyarakat diperlukan karena waktu yang sempit dari saat dikeluarkannya informasi dengan saat (dugaan) datangnya bencana. Kondisi kritis, waktu sempit, bencana besar dan penyelamatan penduduk merupakan  faktor-faktor yang membutuhkan peringatan dini. Semakin dini informasi yang disampaikan, semakin longgar waktu bagi penduduk untuk meresponnya.

Keluarnya informasi tentang kondisi bahaya merupakan muara dari suatu alur proses analisis data-data mentah tentang sumber bencana dan sintesis dari berbagai pertimbangan. Ketepatan informasi hanya dapat dicapai apabila kualitas analisis dan sintesis yang menuju pada keluarnya informasi mempunyai ketepatan yang tinggi. Dengan demikian dalam hal ini terdapat dua bagian utama dalam peringatan dini yaitu bagian hulu yang berupa usaha-usaha untuk mengemas data-data menjadi informasi yang tepat dan menjadi hilir yang berupa usaha agar infomasi cepat sampai di masyarakat.

 

2. Tujuan Sistem Peringatan Dini

Bagi masyarakat Indonesia, sistem peringatan dini dalam menghadapi bencana sangatlah penting, mengingat secara geologis dan klimatologis wilayah Indonesia termasuk daerah rawan bencana alam. Dengan ini diharapkan akan dapat dikembangkan upaya-upaya yang tepat untuk mencegah atau paling tidak mengurangi terjadinya dampak bencana alam bagi masyarakat. Keterlambatan dalam menangani bencana dapat menimbulkan kerugian yang semakin besar bagi masyarakat. Dalam siklus manajemen penanggulangan bencana, sistem peringatan dini bencana alam mutlak sangat diperlukan dalam tahap kesiagaan, sistem peringatan dini untuk setiap jenis data, metode pendekatan maupun instrumentasinya. Tujuan akhir dari peringatan dini ini adalah masyarakat dapat tinggal dan beraktivitas dengan aman pada suatu daerah serta tertatanya suatu kawasan. Untuk mencapai tujuan akhir tersebut maka sebelumnya perlu dicapai beberapa hal sebagai berikut:

a. Diketahuinya daerah-daerah rawan bencana di Indonesia

b. Meningkatkannya knowledge, attitude dan practice dari masyarakat dan

aparat terhadap fenomena bencana, gejala-gejala awal dan mitigasinya.

c. Tertatanya suatukawasan dengan mempertimbangkan potensi bencana.

d. Secara umum perlu pemahaman terhadap sumberbencana.

 

 

3. Target dari Sistem Peringatan Dini

Target yang akan diberi peringatan dini adalah masyarakat dan aparat, terutama yang tinggal di daerah rawan bencana. Target ini seharusnya mencakup beberapa generasi dan beberapa kelas sosial masyarakat. Keterlibatan masyarakat, aparat dan akademisi (peneliti dari multi disiplin, misal geografi, geologi, pertanian, teknik sipil, ilmu sosial, dll) sangat penting dalam sistem peringatan dini. Sistem peringatan dini akan lebih tepat apabila dirumuskan oleh ketiga komponen ini. Apabila salah satu komponen saja yang dominan dikhawatirkna sistem ini tidak akan berjalan efektif.

<!–nextpage–>

4. Pelaksanaan Sistem Peringatan Dini

Informasi dini terhadap bencana didapatkan dengan dua macam cara, yakni sebagai berikut.

a. Konvensional

Secara konvensional, pengenalan bencana dilakukan dengan pengenalan terhadap gejala-gejala alam yang muncul sebelum terjadinya bencana, yang disesuaikan dengan karakteristik bencananya.

b. Modern

Secara modern, pengenalan bencana dilakukan dengan pemantauan aktivitas di atmosfer secara periodik dengan satelit maupun peralatan berteknologi tinggi. Pengenalan gejala bencana merupakan hal yang penting dalam Early Warning System. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sebagian besar Sistem Peringatan Dini Bencana Alam sulit untuk diaplikasikan. Biaya instansi perangkat keras, perangkat lunak, jaringan telekomunikasi dan operasionalnya memerlukan pendanaan yang sangat mahal. Dalam kondisi seperti ini, maka kesiapsiagaan dan mengenali gejala alam akan munculnya bencana merupakan jawaban yang paling memungkinkan. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana harus diberdayakan dan merespons sistem tersebut agar pengurangan jumlah korban bencana alam dapat dihindari. Oleh karena itu, perlu peningkatan pemahaman kesadaran masyarakat dan aparat terhadap kondisi daerahnya yang rawan, serta terhadap gejala-gejala awal terjadinya bencana, tindakan darurat dan mitigasinya. Adapun gejala yang biasanya nampak sebelum terjadinya bencana adalah sebagai berikut.

a.    Gejala Letusan Gunungapi

• Hewan-hewan yang berada di dalam hutan keluar dari hutan menuju wilayah yang lebih rendah

• Ular, tikus dan kecoa keluar sangat banyak dari dalam got

• Suhu udara terasa sangat panas di malam hari dan meningkat drastis

dibanding hari-hari biasa

b.   Gejala Gempa Bumi (Tektonik)

• Awan yang berbentuk seperti angin tornado atau pohon/batang berdiri

• Lampu neon menyala redup/remang-remang walaupun tidak ada arusnya

• Hasil cetakan faximile berantakan(tidak jelas dan tidak terbaca)

• Siaran televisi terganggu

• Hewan-hewan berperilaku aneh/gelisah, menghilang, dan berlarian

c.    Gejala Tanah Longsor

• Hujan yang intensitasnya tinggi (3 hari berturut-turut >300 mm)

• Tanah yang bergerak (creep)

<!–nextpage–>

  • Larian material kering yang tidak kompak dari lapukan batuan Pohon-pohon, tiang, tanaman miring atau berpindah tempat

d.   Gejala Tsunami

• Hewan-hewan laut keluar dari persembunyiannya kepermukaan

• Terdapat gempa dengan kekuatan besar

• Air laut tiba-tiba surut hingga beberapa ratus meter, sehingga banyak ikan terdampar di pantai

• Burung-burung laut terbang dengan kecepatan tinggi ke arah daratan

• Udara berbau asin (air garam)

• Angin berhembus tiba-tiba dan terasa dingin menyengat

• Suara dentuman seperti meriam di dasar laut atau mendengar suara drum

band yang sangat banyak dengan irama cepat

e.    Gejala Badai

• Awan hitam di tepi khatulistiwa

• Angin kencang

• Udara dingin

• Gelombang laut meninggi

• Hujan dengan intensitas yang tinggi (luar biasa deras)

f. Gejala Kekeringan

• Bulan kering berkepanjangan

• Temperatur udara tinggi dan kering

• Hewan-hewan tanah muncul kepermukaan tanah

• Daun tanaman keras meranggas

• Bunyi “garangpong” (Jawa) tanpa henti

g. Gejala Banjir

• Hujan yang intensitasnya tinggi (3 hari berturut-turut >300 mm)

• Naiknya permukaan air sungai

• Daerah hulu dengan hutan yang rusak (gundul)

• Air sungai berwarna keruh dan penuh lumpur

• Aliran sedimen dasar sungai bergerak sangat cepat ke arah hilir

• Awan hitam di arah hulu sungai

• Suara riuh-rendah bagaikan dentuman dari arah hulu sungai

• Hewan (orang utan) menunjukkan tingkah laku yang sangat gelisah dan

berteriak-teriak

Dengan mempertimbangkan penyebab utama ditetapkannya sistem peringatan dini, serta tujuan dan targetnya, maka disarankan agar sistem peringatan dini ini dilakukan dengan sistem pemberdayaan masyarakat, dengan melibatkan aparat pemerintah dan akademisi sebagai fasilitator dan motivator. Sistem ini harus dapat meningkatkan knowledge, attitude dan practice dari tiap komponen yang ada dalam sistem tersebut. Syarat utama agar peringatan dini ini dapat berhasil efektif, diperlukan komitmen pribadi dan aksi nyata dari tiap individu/institusi dan komunikasi yang baik antar individu yang terlibat.

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

  1. Anonim, 2005, Waktu yang Tepat Memberikan Pelajaran Waspada,http://www.iagi.or.id/moduls.php?News&file, 3 April 2006.
  2. Daryono, 2005, Prediksi dan Gejala Awal Tsunami, Balai Meteorologi dan Geofisika Wilayah, Bali.
  3. Karnawati, Dwi Korita, 2001, Sistem Peringatan Dini Tanah Longsor dengan Pemberdayaan Masyarakat, Lokakarya Nasional : Pengembangan Sistem Peringatan Dini, PSBA UGM – PMI Pusat, Yogyakarta.
  4. Ratdomopurbo, A., 2001, Peringatan Dini Bahaya Letusan Gunungapi Merapi,
  5. Lokakarya Nasional : Pengembangan Sistem Peringatan Dini, PSBA UGM – PMI Pusat, Yogyakarta.
  6. Sarwidi, 2001, Upaya Pengurangan Dampak Bencana Gempa Bumi, Lokakarya Nasional : Pengembangan Sistem Peringatan Dini, PSBA UGM – PMI Pusat, Yogyakarta.

 

About these ads

3 responses to “Sistem Peringatan Dini (Early Warning System)

  1. Terima kasih atas pelajaran tentang kebencanaannya sangat bermanfaat. Berkarya terus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s